Bacaan hari ini: Amsal 18
“Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.” (Amsal 18:7)

“Mulutmu harimaumu” begitulah inti pesan salah satu iklan yang beredar di TV beberapa tahun yang lalu. Perkataan kita bisa menjadi jerat bagi kita sendiri, jika kita tidak bijaksana. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam berkata-kata, baik secara verbal, maupun melalui media sosial.

Ya! Perkataan-perkataan yang kita ucapkan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan, bisa menguatkan sekaligus melemahkan, bisa mengangkat dan menjatuhkan, bisa melukai bahkan menyembuhkan, bisa menjadi berkat atau batu sandungan! Penulis Amsal menasihatkan kita tidak menjadi seperti orang bebal yang dibinasakan oleh perkataannya. Kita harus berkata-kata selayaknya orang yang mengenal Tuhan, karena dari perkataan kitalah, nyata hikmat yang lahir dari iman kita.

Suatu kali saya mengikuti sebuah group diskusi pokok-pokok iman Kristen di facebook, awalnya saya sangat bersemangat karena saya berpikir bahwa di sana akan ada diskusi-diskusi santun yang menambah pengetahuan, apalagi ketika saya lihat anggotanya adalah para rohaniwan. Namun demikian, harapan saya ternyata tidak sesuai kenyataan. Banyak orang berdiskusi dengan perkataan-perkataan yang kasar, merendahkan orang lain, dan akhirnya menimbulkan pertengkaran. Beberapa anggota keluar dengan perasaan kecewa dan sakit hati, mereka keluar dengan kesan bahwa banyak “oknum rohaniwan” yang sama saja dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Bayangkan, tema pembicaraan di group itu adalah tentang kebenaran firman Tuhan tetapi karena tidak menggunakan kata-kata yang baik, akhirnya tidak menjadi berkat, malah menjadi batu sandungan. Apalagi jika yang dibicarakan adalah hal-hal yang tidak baik, tentunya akan lebih buruk dampaknya.

Mari, jadikan firman Tuhan ini sebagai bahan evaluasi diri kita masing-masing, apakah perkataan-perkataan kita menunjukkan bahwa kita orang yang telah mengenal hikmat yang sejati? Kita harus mengaktualisasikan hikmat yang sejati yang telah kita kenal itu secara konkrit dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan kiranya menolong kita. Amin.

STUDI PRIBADI: (1) Apa tujuan penulis Amsal menuliskan ayat2 ini? (2) Membaca Efesus 4:29 & membandingkan dengan Amsal ini, bagaimana seharusnya orang Kristen berkata?
POKOK DOA: Doakan agar hikmat Tuhan senantiasa memimpin setiap jemaat Tuhan untuk bijaksana dalam perkataan. Apa yang dikatakan: membangun, menguatkan, menyembuhkan dan menjadi berkat bagi orang lain.