Bacaan hari ini: 1 Petrus 2:18-21

“Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” (1 Petrus 2:21)

Penderitaan sama sekali bukan bagian favorit untuk semua orang, termasuk orang Kristen. Tetapi, kenyataannya, penderitaan sangat dekat dengan kita selama kita hidup di dunia. Di dalam bagian firman Tuhan ini, Petrus mengingatkan kita cara berespons kepada mereka yang mungkin menimbulkan penderitaan dalam hidup kita. Mengambil konteks perbudakan pada zaman itu, Petrus mengatakan bahwa bahkan kepada tuan yang bengis pun, kita harus belajar tunduk dan penuh ketakutan.

Ada dua hal yang Petrus maksudkan. Pertama, kita mampu berespons seperti ini karena pada dasarnya kita takut akan Allah dan menghormati Allah yang adalah Tuan sorgawi kita atau Tuan atas hidup kita. Jadi, kita menghormati tuan kita di bumi karena kita menghormati Tuan sorgawi kita. Kedua, Petrus sangat menekankan tentang penderitaan yang terjadi karena kehendak Allah. Petrus menghibur umat Tuhan dari perspektif kasih karunia, sebagaimana ia tulis dalam ayat 19. Jadi, penderitaan itu bukan sesuatu yang sia-sia, tetapi memiliki arti dan tujuan. Penderitaan dipakai Tuhan untuk menjadi momen persekutuan kita dengan Kristus, yang sudah menderita terlebih dahulu bagi kita. Suatu persekutuan yang erat, yang membawa kita mengenal Kristus secara dekat melalui pengalaman. Inilah kasih karunia kita yang diizinkan Tuhan mengalami penderitaan di dunia.

Selanjutnya, Petrus menambahkan bahwa ini bukan berarti kita jatuh pada mentalitas menjadi korban dalam semua penderitaan kita. Kita perlu mengintrospeksi diri kita dan jujur di hadapan Allah bahwa ada penderitaan yang terjadi karena kesalahan kita. Jika demikian, maka penderitaan itu adalah keadilan yang harus kita jalani sebagai konsekuensi dari kesalahan kita. Jadi, selain bisa menilai bahwa penderitaan adalah pengalaman kasih karunia Allah, penderitaan bisa dipakai juga untuk mengoreksi diri kita.

Kiranya sebagai murid Kristus yang masih terus berjuang hidup kudus di hadapan Allah, kita dimampukan untuk menangkap momen-momen yang Tuhan sediakan untuk mengenal kasih karunia-Nya meskipun melalui penderitaan. Memang hal itu tidak mudah, namun Tuhan berjanji bahwa kasih karunia-Nya selalu cukup bagi kita. Amin.

STUDI PRIBADI: Apakah ciri-ciri Anda meng-imitasi Kristus? Apa buah yang Anda lihat?

Berdoalah: Bapa, terima kasih Engkau menyediakan momen-momen kami mengalami kehadiran, kasih, dan kuasa-Mu. Arahkan pandanganku kepada-Mu, sehingga apapun yang aku hadapi, aku tahu itu berarti di dalam-Mu