Bacaan hari ini: Yohanes 21:15-25
“Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: Ikutlah Aku.” (Yohanes 21:19)

Ketika Petrus menyadari bahwa orang di tepi danau itu adalah Yesus, seketika, sebagaimana sifat Petrus yang reaktif, segeralah ia terjun dan berenang ke tepian. Dalam percakapan yang intim setelah sarapan pagi, Yesus mengajak Petrus untuk introspeksi diri, menanyakan kasihnya kepada Tuhan, dan mengingatkan kembali akan panggilannya, bagaimana harus menggembalakan, merawat, dan memelihara kawanan domba Allah dengan segenap hati, jiwa, dan raga. Bukan hanya itu, Yesus menyatakan keadaannya pada masa yang akan datang, tentang pelayanannya, situasi hidupnya, bahkan kematiannya, dan di situlah Yesus menuntut Petrus agar mengikut-Nya dengan setia.

Frasa “Ikutlah Aku” yang sama dengan pemanggilan Petrus sebagai penjala manusia bukan sekadar ajakan biasa atau himbauan agar dituruti, tetapi merupakan perintah yang harus dipatuhi dan ditaati dengan segenap jiwa dan raga, yang dalam bahasa aslinya berbentuk present, bersifat active dengan modus imperative, yang bersifat perintah, mempertegas kemauan; Benar, Yesus menuntut sebuah totalitas tanpa batas dan syarat. Bahkan reaksi Petrus tentang sahabatnya, Yohanes, berbalas jawaban yang sama, dalam ayat 22: “…itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku…” (Joh. 21:22). Seolah Yesus berkata: jangan pusingkan dirimu dan juga orang lain; tetaplah fokus, Aku mempunyai tujuan atas hidup dan panggilanmu, yang lain adalah urusan-Ku, Aku punya urusan sendiri dengan dia, tetapi kamu, ikutlah Aku!

Pemanggilan Yesus atas murid-murid-Nya menuntut penyerahan diri total, meninggalkan kegagalan yang pernah terjadi—,bukankah Petrus telah tiga kali menyangkali-Nya? Hendak kembali kepada profesi lamanya sebagai nelayan? Hingga dengan penuh kasih Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” sebanyak tiga kali—dan berfokus pada misi-Nya, bahkan segala resiko yang ada di depan panggilan-Nya haruslah diresponi dengan kepala tegak, busungkan dada, dan langkah tegap, yaitu keyakinan penuh dalam mengikuti setiap jalan panggilan-Nya.

STUDI PRIBADI: (1) Apa panggilan Tuhan atas hidupmu? (2) Sudahkah Anda memberikan totalitas akan panggilan itu?
POKOK DOA: Berdoalah untuk setiap hamba Tuhan yang sedang melayani Tuhan di dalam gereja atau di manapun mereka berada agar mereka tetap setia dan taat melayani-Nya raja di atas segala raja, Amin.