Bacaan hari ini: Matius 5:8, Mazmur 73:1-28

“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Matius 5:8)

Suci hati — kata ini mewakili kesucian yang seharusnya dimulai dari dalam hati. “Hati” melambangkan kondisi terdalam hidup manusia, bukan sesuatu yang hanya tampak dari luar dan bersifat legalistik. Kesucian ini menggambarkan ketiadaan dosa, kebencian, ketamakan, termasuk juga nafsu jahat. Dengan demikian, kesucian hati mengacu kepada ketulusan, kemurnian, kejujuran, tanpa ada niat yang terselubung.

Orang yang suci hatinya adalah mereka yang tidak memiliki keinginan untuk memanipulasi atau menipu Tuhan ataupun sesama manusia. Hal ini bukanlah sesuatu yang gampang untuk diraih sebab hati manusia penuh dengan dosa. Hanya melalui darah Yesus saja kita dikuduskan dan dengan pertolongan Allah Roh Kudus, kita mengupayakan agar ketulusan hati ini terwujud nyata dalam kehidupan. Hal-hal yang secara konkret mewujudkan kesucian hati adalah: menyelaraskan hati kita. Kecenderungan manusia ialah memikirkan dan akhirnya berbuat dosa. Maka hati perlu diselaraskan. Oleh sebab itu, hati yang berdosa perlu disucikan oleh Tuhan. Sesudah itu, kita memohon Tuhan untuk terus menyelidiki hati kita. Sebagaimana Daud katakan, “Selidiki aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntun aku di jalan yang kekal!” (Mzm. 139:23-24). Untuk membangun keselarasan, kita perlu setia berdoa dan mengaplikasikan Firman Tuhan dalam hidup.

Membangun kehidupan yang tulus. Hidup masa kini sering dinilai dari performa (pencapaian) sehingga mengabaikan ketulusan. Kita mungkin kenal istilah, “pencitraan” atau “asal bapak senang.” Sering kita melakukan sesuatu hanya demi reputasi dan untuk menyenangkan orang lain. Maka, sangat perlu memperhatikan motivasi hati ketika melakukan sesuatu; kita melakukannya karena reputasi/pencitraan atau dengan ketulusan.

Marilah kita memperhatikan bahwa Tuhan menyebutkan seorang yang memiliki ketulusan atau kemurnian hati adalah orang yang berbahagia, karena melalui hidup mereka, Allah dimuliakan. Orang yang tulus hati, kelak akan berjumpa Tuhan “muka dengan muka.”

STUDI PRIBADI: Apakah kita telah memiliki hidup yang benar-benar tulus Bagaimanakah caranya agar kita memiliki ketulusan hati?

Pokok Doa: Berdoalah agar Tuhan Yesus selalu membentuk dan memenuhi hidup dengan melakukan ketulusan. Berdoalah supaya kita diberi kekuatan untuk menjauhi pola hidup yang penuh dengan kepura-puraan.