Bacaan hari ini: Amsal 12
“Lebih baik menjadi orang kecil, tetapi bekerja untuk diri sendiri, daripada berlagak orang besar, tetapi kekurangan makan.” (Amsal 12:9)

Pernahkah Anda mendengar istilah “social climber”? Istilah “social climber” merupakan istilah yang digunakan untuk orang-orang yang ingin mencari pengakuan sosial yang lebih tinggi dari kondisi atau status yang sebenarnya. Ada orang-orang yang posting sana-sini seperti liburan ke luar negeri, memakai barang ber-merk, dan seterusnya, padahal dalam kenyataannya semua itu hasil hutang atau pinjam barang orang lain. Semua ini dikerjakan demi pencitraan diri atau pengakuan sosial yang lebih, padahal kenyataan tidaklah demikian. Alhasil, slogan biar “kere” (ga punya apa-apa) yang penting “kece” (kelihatan keren) jadi tren kekinian.

Bagaimanakah seorang anak Tuhan merespon fenomena seperti ini? Amsal 12:9 secara khusus memberikan nasihat yang perlu kita perhatikan. Penulis Amsal bermaksud untuk mengatakan bahwa reputasi tidak boleh menjadi lebih penting daripada realita. Hal ini merupakan penekanan Amsal. Perhatikan penekanan kata “berlagak” yang diterjemahkan oleh beberapa versi Alkitab lain sebagai “pretend” atau kepura-puraan. Dalam hal ini Amsal tidak sedang memberikan kritik terhadap orang yang kaya “sesungguh-sungguhnya”, tetapi Amsal sedang meresponi orang-orang yang tidak menjadi dirinya sendiri dan berlagak seperti orang lain.

Dalam merespon tren “social climber” ataupun fenomena yang sejenis, seharusnya anak-anak Tuhan tidak terjerat dan ikut-ikutan menjadi seperti demikian. Menjadi apa adanya, seperti yang sudah menjadi berkat Tuhan bagi diri kita masing-masing, adalah bagian yang harus kita hidupi dengan jujur dan syukuri. Christina Caine berkata: comparing your life, your calling, your schedule, or even your way of doing things with someone else’s will only bring frustration. Rasul Paulus juga mengingatkan kita dalam 1 Timotius 6:8-9 bahwa “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.”

STUDI PRIBADI: Apakah Anda telah merasa nyaman dan bersyukur dengan keberadaan diri Anda pada saat ini?
POKOK DOA: Ajarilah kami ya Tuhan untuk senantiasa menjadi diri kami sendiri, sebagaimana yang Engkau kehendaki. Dan berilah kepada kami senantiasa hati yang bersyukur untuk segala sesuatu yang ada pada kami saat ini.