Kata mereka: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Lukas 19:38)
Genaplah firman Tuhan berkata: “Lihatlah, Rajamu datang kepadamu” (Za. 9:9). Ini adalah puncak luapan emosi yang tertahan selama ini, karena mereka ingin merajakan Yesus. Sepertinya inilah waktunya Yesus menerima sanjungan bahwa diri-Nya sebagai Raja. Namun apakah mereka mengenal Yesus sesungguhnya? Apakah Yesus dapat memenuhi harapan mereka? Setidaknya kita dapat melihat dua fenomena yang kontras, Dia disanjung lalu ditinggalkan begitu saja saat Yesus dieluk-elukan di Yerusalem sampai menuju di bukit Golgota.
Fenomena pertama, Yesus disanjung oleh orang banyak. Ketika Yesus masuk Yerusalem sepertinya tidak ada persiapan atau panitia khusus untuk acara arak-arakan saat bagaima-na Yesus masuk di Yerusalem. Dia hanya mengendarai seekor keledai muda yang bukan milik-Nya. Lalu Yesus disambut pengikut-pengikut-Nya, termasuk murid-murid dan orang banyak (Mat. 21:8; Luk. 19:37). Orang banyak atau pengikut-pengikut Yesus di pasal-pasal sebelumnya mencakup segala macam masyarakat (strata atas dan bawah) mereka yang pernah mendengar khotbah Yesus, yang pernah melihat mujizat Yesus, dan sebagian yang pernah mengalami kesembuhan dari berbagai penyakit, lumpuh, tuli, buta, kerasukan dan pengajaran rohani. Mereka datang mengelu-elukan Yesus dengan seruan: Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan. Sanjungan mereka bersifat kekinian, temporel untuk merajakan Yesus secara fisik sebagai pemimpin politik, baik secara geografis maupun teritorial untuk bersaing dengan kekuasaan kaisar Romawi dan raja Herodes, agar mereka bebas dari tekanan politik, ekonomi, sosial dan keagamaan. Karena itu, mereka menyambut dengan sorak-sorai, tapi mereka lupa Raja ini tidak naik kereta kuda dengan pasukan kebesaran, tapi dengan keledai pinjaman, dengan sikap lemah lembut masuk kota Yeru-salem. Yesus menerima sanjungan, arak-arakan dan sorak-sorai orang banyak bukan berarti menerima permintaan menjadi raja versi mereka. Yesus memang Raja di atas segala raja, Dia adalah pewaris tahta kerajaan Daud (Yes. 9:5-6). Dia datang membebaskan belenggu dosa, dan jajahan dosa. Dia Raja yang bertahta di hati kita. Bagaimana dengan kita? Tidak sekadar sanjung Dia, tapi undanglah Dia bertakhta dalam hati kita.
Fenomena kedua, adalah Yesus ditolak atau ditinggalkan orang banyak setelah terjadi euforia sesaat sepanjang perjalanan dari Yerusalem di tempat jalan menurun dari Bukit Zaitun. Kekecewaan meliputi hati mereka, karena harapan mereka akan Yesus menjadi raja dunia tidak terpenuhi. Yang paling geram adalah pemimpin-pemimpin Yahudi, Ahli Taurat, Farisi, dan Imam-Imam kepala yang protes terhadap Yesus: Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu.” Yesus berkata, “Jika mereka diam, maka batu ini akan berteriak.” Sebab semua ini harus terjadi sesuai nubuatan firman Tuhan. Bagi kita, bukan rahasia lagi, golongan pemimpin-pemimpin agama menolak Yesus adalah Mesias atau Anak Allah. Bagi mereka ini suatu peng-hujatan atau penistaan agama Yahudi. Ganjaran yang pantas untuk Tuhan Yesus adalah gantung di atas kayu salib. Inilah sikap pemimpin-pemimpin agama Yahudi di Yerusalem. Yesus tahu semua elukan/sanjungan/seruan akan berubah menjadi peristiwa mengerikan di atas kayu salib. Yesus berkata; Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan Farisi yang munafik, mereka tahu pintu surga, tapi tidak mau masuk dan menghalangi orang masuk. Yesus tidak perlu elukan, sanjungan yang munafik. Yesus menginginkan pertobatan dan pembaharuan hidup bagi setiap pengikut-Nya. *
