“Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.” (1 Korintus 15:3-4)
Peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian merupakan suatu berita kontroversi. Sejak awal peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus, para Imam kepala dan ahli taurat telah mengarang cerita bahwa kebangkitan Tuhan Yesus itu adalah suatu kebohongan. Cerita itu tersebar dan menjadi suatu sumber berita yang digemari dan terus dikembangkan oleh para penentang kekristenan di abad-abad kemudian. Namun suatu berita yang benar tetaplah menjadi berita yang benar. Bahkan berita yang dianggap bohong, penuh rekayasa dan tidak benar itu, setelah diteliti oleh para ahli yang memang skeptic, ternyata kisah tersebut telah membangkitkan iman mereka kepada Tuhan Yesus Kristus. Yang semula tidak percaya, kemudian menjadi percaya.
Di dalam 1 Korintus 5:1-11 Rasul Paulus menekankan tentang 2 hal penting untuk kita renungkan bersama:
Pertama, Kebangkitan Kristus dari kematian telah membangkitkan iman seluruh orang percaya (ayat 1-8). Paulus tidak hanya menyebutkan tentang “iman jemaat di Korintus saja” tetapi Paulus juga menyebutkan iman dari Kefas, kedua belas murid, kepada lebih dari lima ratus orang, kepada Yakobus, dan kepada Paulus. Dan semua orang-orang tersebut menjadi “percaya dan teguh berpegang kepada pemberitaan Injil yang didasarkan kepada kematian dan kebangkitan-Nya.” Di sini Paulus menekankan kesatuan iman orang percaya yang didasarkan kepada “kematian dan kebangkitan Kristus. Mengapa hal ini penting ditekankan oleh Paulus? Karena iman yang didasarkan kepada kematian dan kebangkitan Kristus itu akan menyatukan orang-orang percaya di dalam gereja-Nya dan bukan memecah belah jemaat da-lam pengkultusan individu tertentu (bdk. I Korintus 1:12).
Kedua, Kebangkitan Kristus dari kematian telah membangkitkan dorongan untuk terus memberitakan Injil (ayat 9-11). Sebelum bertobat, Paulus bernama Saulus dan penganiaya jemaat Allah. Namun setelah pertemuan dengan Yesus Kristus yang telah bangkit dari kematian (bdk. ayat 8), Paulus melalui anugerah TUHAN yang dinyatakan kepadanya, berkata “aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua.” Memahami istilah “bekerja keras” atau “bekerja dengan giat” menunjuk kepada aktifitas mengajar dan memberitakan Injil. Sebelum Paulus mengajar dan memberitakan Injil, Paulus telah diubah oleh Yesus Kristus. Paulus giat di dalam pengajaran dan pemberitaan Injil agar setiap orang yang mendengar berita Injil “dapat diubah” memiliki keyakinan hidup kekal dan disatukan dengan Allah. Inilah berita Injil yang sejati – bersifat transformatif dan bukan informatif. John Piper pernah menuliskan: The best news of the Christian gospel is that the supremely glorious Creator of the universe has acted in Jesus Christ’s death and resurrection to remove every obstacle between us and himself so that we may find everlasting joy in seeing and savoring his infinite beauty. *
