Bacaan hari ini: Amsal 10
“Makin banyak bicara, makin banyak kemungkinan berdosa; orang yang dapat mengendalikan lidahnya adalah bijaksana.” (Amsal 10:19, BIS)

Sangat menarik membaca kitab Amsal pasal yang ke-10 ini karena penulis, dalam hal ini diyakini sebagai Salomo, menggunakan baik kata “mulut” sebanyak 4 kali (ay. 6, 11, 31, 32), “bicaranya” sebanyak 4 kali (ay. 8, 10, 14, 19), “bibir” sebanyak 5 kali (ay. 13, 18, 19, 21, 32), “lidah” sebanyak 2 kali (ay. 20, 31) termasuk masing-masing satu untuk kata “teguran” (ay. 17) dan “umpatan” (ay. 18) yang bila ditotalkan digunakan sebanyak 18 kali dalam 32 ayat secara bergantian untuk menjelaskan bagaimana kata-kata dapat menjadi daya dorong positif, namun juga dapat merusak dan menghancurkan seseorang.

Dalam mitologi India, dikenal seorang yang licik dan tajam memakai mulutnya, yang menyebabkan terjadi perang besar yang dikenal dengan perang Mahabharata di Kurukshetra, antara Pandawa dan Kurawa; orang tersebut adalah Patih Sengkuni. Demikian juga di dalam Alkitab, terdapat banyak contoh tentang bahaya kata-kata, seperti hasutan serta fitnahan istri Potifar sehingga Yusuf harus menderita dan mendekam dalam penjara, atau Uria harus kehilangan nyawa karena perintah Daud dalam persekong-kolannya dengan Yoab untuk mendapat Batsyeba dan sebagainya. Itulah sebabnya, Yakobus memperingatkan dengan keras bahaya lidah yang kecil namun dapat memegahkan perkara-perkara besar (Yak. 3:5), bahkan dalam kaitan penyembahan kepada Tuhan; bila seseorang tidak mampu mengekang lidahnya maka ia sedang menipu dirinya sendiri.

Dalam konteks pada hari ini, bukan hanya mulut yang dapat menjadi “Harimau-mu” namun juga dapat disebutkan “jari-mu harimau-mu”, karena hanya dengan sentuhan jari pada gadget ataupun gawai pintar, seseorang dapat memberitakan kabar baik ataupun yang sebaliknya, menyebarkan kebohongan yang dapat menimbulkan keresahan bahkan dapat memicu kerusuhan. Karena itu, bijaksanalah dalam berkata-kata baik secara verbal maupun non verbal, apakah ucapan dan kata-kata kita menyejukkan, membangun, dan membangkitkan semangat yang patah, ataukah justru merendahkan dan menimbulkan putus asa?

STUDI PRIBADI: (1) Bagaimana Anda menggunakan lidah Anda saat ini, memberkati atau mengutuk? (2) Apa upaya yang Anda lakukan untuk mengekang lidah Anda?
POKOK DOA: Berdoalah untuk setiap jemaat Tuhan agar selalu menjadi berkat melalui kata-kata yang membangun dan juga memberi semangat, kepada mereka yang sedang berputus asa atau mengalami dukacita.