Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.” (Yohanes 12:7-8)

Yesus mempunyai hubungan yang sangat istimewa dengan satu keluarga dari Betania, yaitu Maria, Marta dan Lazarus. Di kota inilah Yesus membangkitkan Lazarus, adik yang paling kecil dari ketiga bersaudara ini, yang sudah mati empat hari. Bagi Yesus, mereka sudah seperti keluarga sendiri. Di pasal 12 ini mungkin sedang diadakan acara syukuran atas hidup kembalinya Lazarus. Mereka mengundang Yesus sebagai tamu khusus. Sepertinya Yesus juga datang dengan murid-murid-Nya. Ada dua tokoh yang sangat menonjol dalam acara syukuran ini.

Pertama adalah Maria, dia adalah saudara tertua dari Marta dan Lazarus. Ketika Lazarus meninggal, Maria sangat terpukul. Walau tidak seperti Marta yang proaktif dan gesit menemui Yesus, namun kita tahu Marialah yang menangis tersungkur di kaki Yesus (Yoh. 11:32-33). Rasa syukur dan hutang budi yang tak terhingga atas hidup kembalinya adiknya masih terus terbawa dalam pikiran Maria sampai ke acara syukuran ini. Maria terus berpikir bagaimana ia dapat membalas kasih dan kebaikan Yesus, apa yang pantas ia persembahkan untuk orang yang yang sudah menyelamatkan hidup adiknya. Akhirnya Maria mendapatkan ide. Ia mempunyai sebotol minyak Narwastu, minyak mahal ini biasa dipakai para bangsawan atau juga dipakai oleh pengantin wanita ketika menikah. Satu tetes saja harumnya sudah kemana-mana. Bagi orang biasa, mungkin seumur hidup hanya bisa pakai sekali saja ketika menikah, begitu berharga dan berartinya minyak ini. Maria mengambil botol minyak itu, memecahkannya lalu dipakai untuk meminyaki kaki Yesus. Kaki dianggap kotor, karena injak tanah dan terkena debu, hanya budak saja yang biasa dipersiapkan membersihkan kaki para tamu. Maria meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya.

Pengurapan oleh seorang perempuan di depan publik adalah hal yang tidak biasa, apalagi menyeka dengan rambutnya. Bagi seorang wanita, rambut adalah mahkota, sesuatu yang terhormat dan dibanggakan. Bagi Maria, Yesus adalah segala-galanya, apalagi yang harus kita pertahankan? Bukan sekadar materi, namun harga diri dan kehormatanpun Maria korbankan, asal itu bisa menyenangkan hati Tuhan. Kita akan lebih memahami apabila kita bisa menempatkan hati dan perasaan ketika ada saudara kandung yang kita kasihi sudah empat hari meninggal, tetapi ditolong orang dan bisa hidup kembali. Perasaan haru, syukur dan hutang budi yang tak terbayarkan. Dalam keadaan demikian, uang, harta sudah bukan ukuran bahkan harga diripun akan kita korbankan sebagai balas jasa dan ungkapan terima kasih kita. Itulah yang dirasakan dan dilakukan Maria.

Orang kedua yang perlu mendapat sorotan adalah Yudas, murid Yesus yang datang bersama Yesus dalam acara syukuran ini. Sepintas dari omongannya, dia adalah orang bijak, sangat peduli pada orang tidak punya. Apabila Alkitab tidak menjelaskan siapa sejatinya Yudas, mungkin kita semua terkecoh. Namun Alkitab memberitahukan kita, ia mengatakan demikian bukan karena memperhatikan orang miskin, melainkan dia adalah seorang pencuri yang sering mengambil uang kas yang dipegangnya. Jadi bendahara bukannya mengatur dan menguasai uang, namun dirinyalah yang dikuasai uang, hatinya tamak dengan uang. Karena itu berhati-hatilah, jangan menilai segala sesuatu hanya dari kaca mata uang, ada banyak hal yang tidak bisa dinilai dan dibeli dengan uang. *