“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.” (1 Korintus 15:33)
Kejatuhan Adam mengakibatkan tercemarnya seluruh umat manusia, DNA dosa melekat pada setiap insan yang dilahirkan. Dosa universal merupakan fakta yang tidak dapat disanggah. Air bah tidak membersihkan hati manusia. Generasi baru setelah Nuh, tetap mewarisi DNA dosa, hidup di bawah kuasa dosa, tidak sanggup melepaskan diri. Dan konsekuensinya, manusia hidup di bawah ancaman maut.
Allah berkarya di tengah-tengah realita sejarah seperti itu; mengerjakan satu rencana besar, rencana keselamatan. Kepada Abraham telah dinyatakan bahwa melalui keturunannya, semua bangsa dan suku di muka bumi ini akan diberka-ti. Janji ini dipertegas lewat nabi Yesaya bahwa Allah akan menyediakan suatu perjamuan besar bagi segala bangsa dan suku. Ancaman maut yang selama ini menyelimuti, akan dienyahkan (Yes. 25:6-8).
Untuk menggenapi rencana dan nubuat yang disampaikan sepanjang catatan Perjanjian Lama, Yesus Kristus datang ke dalam dunia, mati disalibkan, dikubur dan bangkit kembali sebagai bukti kemenangan-Nya atas maut. Sengat maut telah dipatahkan, kematian telah dikalahkan oleh kebangkitan-Nya. Kuasa kebangkitan Kristus, membawa kemenangan dalam hidup orang percaya. Karya penebusan salib Kristus, telah membayar lunas hutang dosa kita. Kita dibebaskan dari kuasa dosa.
Tetapi, betulkah orang percaya bisa berhenti berdosa? Bukankah kita masih hidup dalam kelemahan kedagingan? Jawabannya: Pasti ada kemungkinan untuk menang atas dosa bagi setiap orang percaya sejati. Sebagai ciptaan baru, kita bisa tidak berbuat dosa, meskipun kita tetap tidak bisa mengerjakannya secara sempurna.
Dua hal utama yang harus kita lakukan; pertama, hindari godaan, jangan mendekatkan diri kepada segala pencobaan. Kedua, pelihara kebiasaan yang baik, yang menyehatkan rohani. Hidup dekat dengan Tuhan, taati firman-Nya dan alami kuasa kebangkitan-Nya. Lakukan itu dengan kerendahan hati dan kewaspadaan penuh. Jangan membius diri dengan kepuasan yang semu, tanpa mengalami janji-janji-Nya, kuasa-Nya.
Tuhan sudah bangkit! Hiduplah dalam relasi yang intim, yang dinamis dengan Dia, dan alamilah Dia secara nyata. Mendekatlah pada Tuhan, maka kita akan menjauh dari dosa. *
