Bacaan hari ini: Yehezkiel 25
“Aku akan mengacungkan tangan-Ku melawan engkau… melenyapkan engkau dari tengah bangsa-bangsa… Aku akan memusnahkan engkau. Dengan demikian engkau akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.” (Yehezkiel 25:7)

Setelah menubuatkan kehancuran Yehuda, sekarang Tuhan beralih kepada bangsa-bangsa di sekeliling Yehuda, yakni bangsa Amon, Moab, Edom, Filistin. Hubungan mereka dengan Yehuda seperti kucing dan anjing, banyak bermusuhannya daripada bersahabat. Karena bangsa-bangsa di sekeliling inilah, maka Yehuda dan Israel jatuh ke dalam penyembahan berhala, sehingga menimbulkan hukuman Tuhan baginya. Padahal tujuan Tuhan menempatkan Israel (Yehuda) di tengah-tengah bangsa ini, adalah untuk menjadi garam terang, menjadi berkat sehingga bangsa-bangsa ini mengenal Tuhan Allah Israel. Karena mereka tidak ada yang bertobat, dan kita juga tahu bahwa kehidupan mereka tidak lebih baik daripada orang Yehuda (Israel), mereka pun mengalami penghukuman dari Tuhan. Dari nubuatan ini, kita dapat mempelajari beberapa hal, yaitu:

  1. Allah Israel (Yehuda) adalah Alllah yang Esa, Allah atas semua suku bangsa di dunia. Dia bukan hanya Allah atas Israel dan Yehuda saja, tetapi Dia juga adalah Allah atas Amon, Moab, Edom, dan Filistin, bahkan semua suku bangsa di dunia ini.
  2. Allah Israel berdaulat atas nasib bangsa-bangsa di dunia, walaupun dalam sejarah manusia melihat bahwa bangsa-bangsa ini dikalahkan oleh Babel, namun sesungguhnya Tuhan memakai Babel untuk menghukum mereka (bdk. ayat 7, 11, 14, 17).
  3. Penghinaan terhadap Yehuda. Ketika Yehuda dikalahkan Babel dari jauh, mereka malah mensyukuri kekalahan dan kehancuran Yehuda, maka Tuhan secara Pribadi sangat “membenci” orang berdosa yang mengira dirinya lebih baik daripada orang yang dihukum oleh Tuhan.
  4. Pembalasan adalah hak Tuhan, karena hukuman Tuhan bersifat adil dan bijaksana. Adil karena hanya Tuhan sajalah yang tahu besar kejahatan manusia, dan yang bisa menghukum sesuai keberdosaannya. Sedangkan bagi manusia, hal ini tidak mungkin bisa. Sesungguhnya, kita sama sekali tidak memiliki otoritas atas sesama kita, untuk menghakimi mereka.

STUDI PRIBADI: (1) Seberapa besar Anda melihat Tuhan berdaulat atas hidup Anda dan orang lainnya, apakah perbedaan? (2) Apakah ketaatan Anda berbanding lurus dengan iman Anda mengakui kebesaran Tuhan atas hidup Anda?
POKOK DOA: Berdoa agar hidup anak Tuhan senantiasa berpadanan dengan kehendak Tuhan dan Roh Kudus memampukan kita untuk hidup sebagai anak-anak-Nya yang taat dan setia kepada-Nya.